Ucapan

Selamat Datang di Blog Saya. Silahkan Berjelajah Sesuka Hati Anda :D

Selasa, 16 Desember 2014

Ulasan Kumpulan Drama



Ulasan Kumpulan Naskah Lakon Terpilih
(Lomba Penulisan Naskah Drama Tahun 2007)
Seleksi Kebahasaan,Subdin Kebudayaan Dinas P dan K Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007
Jumlah halaman : 173

Kumpulan naskah drama tahun 2007 terdiri atas delapan judul drama. Sebuah judul drama yang menurut saya menarik dari segi ceritanya dan sangat memiliki amanat adalah  sebuah drama berjudul Kota Mati karya Dwiyanto,Spd. , kelahiran Surakarta,6 Januari 1969 seorang guru di SMPN 3 Ngawen Blora. Peraih juara dua pada saat itu. 
Berikut cuplikan naskah drama yang beliau tulis:
Para pelaku :
1.      Ibu
2.      Haryo
3.      Lukman
4.      Penjual makanan lesehan
5.      Hansip


Halilintar menggelegar menyambar. Langit gelappekat. Grimis mulai turun. Sebuah grobak yang berat didorong lelaki muda dengan wajah lelah. Gerobak yang berisi perempuan tua didalamnya. Dibelakangnya nampak adiknya. Juga terlihat letih karena selalu menguntit kemanapun gerobak itu pergi.
Ibu                   : Sudah tinggalkan aku anakku (bersuara lemah)
Haryo              : (terus mendorong gerobaknya) Tidak ibu. Tak mungkin ibu kutinggalkan seorang diri. Apalagi ibu dalam keadaan sakit dan lemah. Bukankah gerobak ini juga menjadi rumah kita selama ini. Kemanapun kita pergi bukankah selalu bersama gerobak ini (nafasnya terengah-engah)
Lukman           : Gantian aku yang mendorong Kak. Kasihan kakak kelihatan
                         capek sekali. (hendak menggantikan)
Haryo              : Jangan. Gerobak ini terlampau berat untuk tubuhmu yang
                         kecil. Kau tak akan kuat. Dua atau tiga tahun lagi kau baru
                          bisa mendorong gerobak ini. Aku dulu juga begitu. Ibulah
                          yang melatih otot-ototku supaya kuat.
Lukman           : (bingung) sebenarnya ibu hendak kita bawa kemana Kak? Bukankah ibu sakit? Bukankah orang yang sakit mesti kita bawa ke rumah sakit untukdiobati pak dokter. Biar segera sembuh hingga ibu tidak perlu berdiam diri terus di dalam gerobak. Kuhitung, kita sudah berkali-kali melewati rumah sakit, mengapa kita tadi tidak berhenti di sana tadi? Bukankah rumah sakit jauh lebih nyaman.
Haryo              : Rumah sakit itu mahal. Berobat di rumah sakit itu harus pakai uang. Orang sekere kita tak akan mampu membayar. Baru akan masuk saja tentu sudah diusir oleh sastpam. Tampang kita memang meyakinkansebagai orang kere. Orang melarat itu memang dilarang sakit. Kalau tak punya uang jangan pernah pergi ke rumah sakit. Kita juga tak punya KTP. Sulit untuk mengaku sebagai orang miskin. Heh,orang miskin  masikah harus mengaku-ngaku kalau dirinya miskin?
Hening kembali datang,gerimis masih rintik-rintik turun. datang penjual makanan lesehan.
Penjual                        : Heh para gembel. Pergi tempat ini untuk jualan. Mengganggu orang saja.                 Sudah sepuluh sepuluh tahun aku mendiami tempat ini. Jangan ganggu orang cari makan.
Haryo                          : (Dengan wajah memelas) bisakah kami menumpang berteduh sebentar. Tolong pak sebentar saja. Didalam gerobak ini ibukami tengah sakit. Bapak mau berbaik hati dengan kami kan. Tolong pak sebarkan sedikit kebaikan untuk kami yang benar-benar membuutuhkan Bapak masih mau berbaik hati pada kami kan?
Gerobak didorong kembali. Haryo menutup gerobak dengan plastik.
Haryo                          : Ibu kita teruskan perjalanan kita kembali. Malam benar-benar  tidak bersahabat dengan kita.
Lukman                       : Perjalanan kemana kak? Tidakkah kita bisa berhenti sebentar.Kakiku pegal dan lemah. Perutku juga masih keroncongan.
Haryo                          : Ibu.....ibu..... bicaralah ibu. Mengapa engkau hanya diam dari  tadi.
Haryo membuka plastik penutup gerobak.
Haryo                          : Ibu...........
(mengguncang-guncangkan tubuh ibunya)
Penjual                         : Cepat pergi. Bawa mayat ibumu menjauh dari sini (menghardik) jangan menakut-nakuti pembeli dengan mayat ibumu.

            Cuplikan naskah drama diatas benaar-benar memiliiki amanat yang mendalam dimana banyak orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan pribadinya tanpa mau meilhat nasib orang lain yang kesusahan. Drama diatas pun menggunakan bahasa yang sangat sederhana namun menyiratkan banyak makna betapa kasih sayang seorang anak kepada ibunya yang sangat besar begitu pula kepada saudaranya.
            Amanat lain yang terkandung dalam drama tersebut adalah bahwa orang-orang yang jahat akan mendapat balasan langsung dari Tuhan seperti nasib yang dialami oleh penjual,hansip dan warga kota yang akhirnya dikerubuti belatung-belatung . Meskipun mendapat juara dua tetapi menurut saya drama berjudul Kota Mati ini sangat menarik.

                            Selain drama berjudul Kota Mati terdapat  tujuh judul drama lain diantaranya ,Apologi Senja Hari (Dwi Ery Santoso), bercerita tentang seorang anak yang sukses dan durhaka melupakan orang tuanya. Imbang (Eko Hartono),bercerita tentang  perseteruan dua orang calon kepala desa karena pemilihan yang diadakan mendapatkan hasil imbang. Sang Petualang (Cakrawala Wedalaksana),bercerita tentang seorang ibu yang memiliki usaha warung makan yang menyajikan menu dengan harga yang sangat mahal, hingga akhirnya seorang pemulung datang dan tak disangka mampu membeli semua menu yang disajikan disisi lain seorang pengusaha merasa sayang mengeluarkan uang untuk membeli makanan yang sangat mahal harganya itu meskipun ia sangat menginginkannya. Terminal Lama (Agustinus Moejono) Bercerita tentang kisah seorang ibu bernama bu Salmi yang memiliki warung didekat terminal dan selalu memberikan makanan secara cuma-cuma bagi siapapun yang ingin makan namun tak memiliki uang. Pasir (Drs. Joko Supriyono),bercerita tentang kisah penduduk dilereng Merapi yang dirugikan karena keberadaan alat-alat berat untuk mengumpulkan pasir serta kedatangan orag-orang dari luar daerah yang hanya memanfaatkan sumberdaya alam Merapi untuk keuntungan pribadi. Semayup Tembang Tanah Seberang (Drs. Ustadji Pantja Wibiarso), bercerita tentang kisah para pemulung yang tetap mempertahankan nasib mereka menjadi seorang pemulung dan tidak ingin mengubahnya, kecuali seorang Emak dan anaknya yang lebih memilih untuk meninggalkan tempat tinggal mereka karena teror kebakaran terus melanda. Mencari keadilan (Wahyu Nugraha) bercerita tentang kisah banteng yang mencari keadilan karena setelah ia menolong buaya justru buaya ingin memangsanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ucapan

Terimakasih Sudah Berkunjung.Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Dan Follownya:)