Ulasan Kumpulan Naskah Lakon Terpilih
(Lomba Penulisan Naskah Drama Tahun 2007)
Seleksi Kebahasaan,Subdin Kebudayaan Dinas P dan K
Provinsi Jawa Tengah Tahun 2007
Jumlah halaman : 173
Kumpulan naskah drama tahun 2007 terdiri atas delapan
judul drama. Sebuah judul drama yang menurut saya menarik dari segi ceritanya
dan sangat memiliki amanat adalah sebuah
drama berjudul Kota Mati karya Dwiyanto,Spd. , kelahiran Surakarta,6 Januari
1969 seorang guru di SMPN 3 Ngawen Blora. Peraih juara dua pada saat itu.
Berikut cuplikan naskah drama yang beliau tulis:
Para pelaku :
1. Ibu
2. Haryo
3. Lukman
4. Penjual makanan lesehan
5. Hansip
Halilintar
menggelegar menyambar. Langit gelappekat. Grimis mulai turun. Sebuah grobak
yang berat didorong lelaki muda dengan wajah lelah. Gerobak yang berisi
perempuan tua didalamnya. Dibelakangnya nampak adiknya. Juga terlihat letih
karena selalu menguntit kemanapun gerobak itu pergi.
Ibu : Sudah tinggalkan aku anakku
(bersuara lemah)
Haryo : (terus mendorong gerobaknya)
Tidak ibu. Tak mungkin ibu kutinggalkan seorang diri.
Apalagi ibu dalam keadaan sakit dan lemah. Bukankah gerobak ini juga menjadi
rumah kita selama ini. Kemanapun kita pergi bukankah selalu bersama gerobak ini
(nafasnya terengah-engah)
Lukman : Gantian aku yang mendorong Kak.
Kasihan kakak kelihatan
capek sekali. (hendak
menggantikan)
Haryo : Jangan. Gerobak ini terlampau
berat untuk tubuhmu yang
kecil. Kau tak akan kuat. Dua atau
tiga tahun lagi kau baru
bisa
mendorong gerobak ini. Aku dulu juga begitu. Ibulah
yang melatih otot-ototku supaya kuat.
Lukman
: (bingung) sebenarnya ibu
hendak kita bawa kemana Kak? Bukankah ibu sakit? Bukankah orang yang sakit mesti kita
bawa ke rumah sakit untukdiobati pak dokter. Biar segera sembuh
hingga ibu tidak perlu berdiam diri terus di dalam gerobak.
Kuhitung, kita sudah berkali-kali melewati rumah sakit, mengapa kita tadi tidak
berhenti di sana tadi? Bukankah rumah sakit jauh lebih nyaman.
Haryo : Rumah sakit itu mahal. Berobat
di rumah sakit itu harus pakai uang. Orang sekere kita tak akan mampu membayar.
Baru akan masuk saja tentu sudah diusir oleh sastpam. Tampang
kita memang meyakinkansebagai orang kere. Orang melarat itu memang
dilarang sakit. Kalau tak punya uang jangan pernah pergi ke rumah
sakit. Kita juga tak punya KTP. Sulit untuk mengaku sebagai orang
miskin. Heh,orang miskin masikah harus mengaku-ngaku kalau dirinya
miskin?
Hening
kembali datang,gerimis masih rintik-rintik turun. datang penjual makanan
lesehan.
Penjual : Heh para gembel. Pergi
tempat ini untuk jualan. Mengganggu orang saja. Sudah sepuluh
sepuluh tahun aku mendiami tempat ini. Jangan ganggu orang cari makan.
Haryo : (Dengan wajah
memelas) bisakah kami menumpang berteduh sebentar. Tolong pak sebentar
saja. Didalam gerobak ini ibukami tengah sakit. Bapak mau berbaik
hati dengan kami kan. Tolong pak sebarkan sedikit kebaikan untuk kami yang
benar-benar membuutuhkan Bapak masih mau berbaik hati pada kami kan?
Gerobak
didorong kembali. Haryo menutup gerobak dengan plastik.
Haryo : Ibu kita teruskan
perjalanan kita kembali. Malam benar-benar tidak bersahabat dengan kita.
Lukman : Perjalanan kemana kak?
Tidakkah kita bisa berhenti sebentar.Kakiku pegal dan lemah. Perutku juga
masih keroncongan.
Haryo : Ibu.....ibu.....
bicaralah ibu. Mengapa engkau hanya diam dari tadi.
Haryo
membuka plastik penutup gerobak.
Haryo : Ibu...........
(mengguncang-guncangkan
tubuh ibunya)
Penjual : Cepat pergi. Bawa mayat ibumu menjauh dari sini
(menghardik) jangan menakut-nakuti pembeli dengan mayat
ibumu.
Cuplikan naskah drama diatas
benaar-benar memiliiki amanat yang mendalam dimana banyak orang-orang yang
hanya mementingkan kepentingan pribadinya tanpa mau meilhat nasib orang lain
yang kesusahan. Drama diatas pun menggunakan bahasa yang sangat sederhana namun
menyiratkan banyak makna betapa kasih sayang seorang anak kepada ibunya yang
sangat besar begitu pula kepada saudaranya.
Amanat lain yang terkandung dalam
drama tersebut adalah bahwa orang-orang yang jahat akan mendapat balasan
langsung dari Tuhan seperti nasib yang dialami oleh penjual,hansip dan warga
kota yang akhirnya dikerubuti belatung-belatung . Meskipun mendapat juara dua
tetapi menurut saya drama berjudul Kota Mati ini sangat menarik.
Selain drama berjudul Kota Mati terdapat tujuh judul drama lain diantaranya ,Apologi
Senja Hari (Dwi Ery Santoso), bercerita tentang seorang anak yang sukses dan
durhaka melupakan orang tuanya. Imbang (Eko Hartono),bercerita tentang perseteruan dua orang calon kepala desa
karena pemilihan yang diadakan mendapatkan hasil imbang. Sang Petualang
(Cakrawala Wedalaksana),bercerita tentang seorang ibu yang memiliki usaha
warung makan yang menyajikan menu dengan harga yang sangat mahal, hingga
akhirnya seorang pemulung datang dan tak disangka mampu membeli semua menu yang
disajikan disisi lain seorang pengusaha merasa sayang mengeluarkan uang untuk
membeli makanan yang sangat mahal harganya itu meskipun ia sangat
menginginkannya. Terminal Lama (Agustinus Moejono) Bercerita tentang kisah
seorang ibu bernama bu Salmi yang memiliki warung didekat terminal dan selalu
memberikan makanan secara cuma-cuma bagi siapapun yang ingin makan namun tak
memiliki uang. Pasir (Drs. Joko Supriyono),bercerita tentang kisah penduduk
dilereng Merapi yang dirugikan karena keberadaan alat-alat berat untuk
mengumpulkan pasir serta kedatangan orag-orang dari luar daerah yang hanya
memanfaatkan sumberdaya alam Merapi untuk keuntungan pribadi. Semayup Tembang
Tanah Seberang (Drs. Ustadji Pantja Wibiarso), bercerita tentang kisah para
pemulung yang tetap mempertahankan nasib mereka menjadi seorang pemulung dan
tidak ingin mengubahnya, kecuali seorang Emak dan anaknya yang lebih memilih
untuk meninggalkan tempat tinggal mereka karena teror kebakaran terus melanda.
Mencari keadilan (Wahyu Nugraha) bercerita tentang kisah banteng yang mencari
keadilan karena setelah ia menolong buaya justru buaya ingin memangsanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar